<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ayo Main!</title>
	<atom:link href="http://imaras.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imaras.wordpress.com</link>
	<description>Dunia adalah halaman belakang rumah.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 May 2010 03:19:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='imaras.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3f6d4e1d178f9c223434e2aa911f424c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ayo Main!</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imaras.wordpress.com/osd.xml" title="Ayo Main!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://imaras.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; The Pinks (06)</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-06/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-06/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 03:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[HAMKRI DIY]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Singgih Sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[SMM]]></category>
		<category><![CDATA[Symphony Kerontjong Moeda]]></category>
		<category><![CDATA[Tjong Young]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 29 Mei 2010/Auditorium Sekolah Menengah Musik/Yogya Bangun siang beneran nikmat, balas dendam kurang tidur dua malam ditambah lagi Yogya kembali diguyur hujan. Catatan sedikit, semalam makan di Via Via, Prawirotaman, tempatnya nyaman meskipun kecil. Hiburan musik hidup jazz dan akses internet yang cukup cepat membuat ‘pancake with ice cream’ yg nggak jelas, saya maafkan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=196&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/symphony-kerontjong-moeda1.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/symphony-kerontjong-moeda1.jpg?w=150&#038;h=77" alt="" title="Symphony Kerontjong Moeda1" width="150" height="77" class="alignleft size-thumbnail wp-image-197" /></a><br />
<em>Sabtu, 29 Mei 2010/Auditorium Sekolah Menengah Musik/Yogya</em></p>
<p>Bangun siang <em>beneran </em>nikmat, balas dendam kurang tidur dua malam ditambah lagi Yogya kembali diguyur hujan. Catatan sedikit, semalam makan di Via Via, Prawirotaman, tempatnya nyaman meskipun kecil. Hiburan musik hidup jazz dan akses internet yang cukup cepat membuat ‘pancake with ice cream’ yg <em>nggak </em>jelas, saya maafkan. </p>
<p>Sore-sore, saya dan Dimas bergerak menembus hujan ke Pasar Beringhardjo, mengadu untung di bagian grosir buku, siapa tahu ada yang punya buku tentang keroncong. Rata-rata buku keroncongnya adalah buku lirik, tapi saya beli juga dua buah, siapa tahu ada gunanya. Minimum kalau karaoke, hafal lirik-lah…</p>
<p>Dari sana, kami langsung ke kompleks kampus UGM, gedung Antar Budaya untuk menjenguk kelompok keroncong yang kami temui di Kadin maupun Gudeg Bu Ahmad. <em>Walah</em>, acara ini ternyata tertutup dan tidak bisa beli tiket lagi. Salah seorang anggota orkes keroncong menyarankan untuk pergi ke SMM (Sekolah Menengah Musik) di Selatan Yogya, karena sedang ada pentas keroncong. Mariii, mariii…, ayo kejaaaarr, daripada hari ini tidak dapat apa-apa! </p>
<p>Namanya rejeki memang jatuh dari langit, jadi nikmati saja tidak usah banyak tanya. Di sana kami dapat akses untuk bisa leluasa memotret dan merekam suara. Yeeeeyyy! Sambil menunggu pertunjukan dimulai, saya baca-baca  <em>booklet </em>yang diberikan pada saat beli tiket (Rp 10.000/orang). Jadi deg-degan! Sepertinya ini pertunjukkan keroncong serius. <em>Waduh</em>, semakin penasaran, semakin <em>senewen </em>bin <em>keder </em>saya menunggu pertunjukkan yang sudah telat setengah jam belum dimulai juga. </p>
<p>Basa-basi MC dan kata sambutan berlangsung cepat, dan panggung auditorium SMM yang tertutup layar warna biru mulai terbuka. Ta-daaa! Ada nada pelan menyelinap di hening ruangan tipikal bunyi sebuah <em>repertoire </em>klasik yang dimainkan orkestra. Tiba-tiba, crongggg…, bunyi yang beberapa hari belakangan sangat akrab di telinga saya menyeruak dengan <em>kenes</em>-nya di antara bunyi standar klasik. Wah, bisa kelihatan bahwa ini disambut dengan hangat oleh penonton yang berjumlah hampir 300 orang. Rasanya seperti ‘ditikam dari belakang’ (lagi-lagi konotasinya positif), saya hanya bisa menganga kaget tertegun mendengarnya. <em>Edhan</em>, bocah SMU dan paling tua baru semester empat di ISI, bisa main orkestra simfoni keroncong kayak begini???? </p>
<p>Pengisi acara kedua adalah Tjong Young, sebuah orkes keroncong muda, yang terdiri dari mahasiswa ISI penggemar keroncong. Mereka membawakan lagu Jembatan Merah yang <em>uaaapiiiik tenan</em>. Bengong saya berlanjut… Lantas, muncul orkes keroncong senior dari HAMKRI DIY dengan penyanyi Sri Hartati dan Nina Wijaya bergantian melantunkan Lambaian Merah Putih dan Candra Kirana, dengan matang serta orisinil. Ha ha ha…, saya senaaanng bisa ada di acara ini. Tidak sia-sia ditolak masuk di UGM.</p>
<p>Setelah itu ada sedikit <em>sharing </em>cerita oleh Bapak Singgih Sanjaya seorang dosen ISI yang terkenal sebagai penggiat keroncong. Dia juga membuat aransemen beberapa <em>repertoire </em>yang akan dibawakan malam mini oleh Symphony Kerontjong Moeda, sebutan untuk grup keroncong dadakan malam ini. Puput Pramuditya, seorang arranger muda berlimpah bakat juga berperan besar dalam keberhasilan  pentas malam ini. Dengan penuh semangat ia bercerita bahwa final arrangement baru benar-benar selesai empat hari sebelum konser berlangsung. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk tetap bersemangat menampilkan yang terbaik. Widodo, satu-satunya pemain piano dalam orkestrasi ini mengatakan latihan intensif hanya dua minggu sebelum pentas. Sebagai musisi klasik, pada awalnya ia sendiri menemui sedikit kesulitan dalam memainkan keroncong, tetapi berkat bantuan guru-guru di SMM dan juga teman sesama musisi dikelompok ini, ia berhasil mendapatkan <em>feeling </em>yang tepat untuk bermain. </p>
<p>”Aransemennya juga lebih dibuat pop, Mbak. Jadi sedikit banyak membantu. Kalau  beneran mainin aslinya keroncong dengan piano, wah ndak ngejar dalam dua minggu,” jelasnya sambil <em>mesem</em>.</p>
<p>Malam ini semua yang pentas dan berpartisipasi layak diacungi jempol tangan dan kaki karena bersedia mendukung pentas ini tanpa mendapat kompensasi apapun selain makan malam. Yang namanya <em>chemistry </em>memang ‘barang aneh’, malam ini semua menyatukan hati untuk mewujudkan impian mementaskan musik keroncong yang dibawakan dengan format klasik. Bersama-sama dengan musis senior HAMKRI DIY dan seorang Singgih Sanjaya, impian ini menjadi kenyataan yang nyaris sempurna.</p>
<p>“Harapan saya, dan kami semua mbak, suatu hari nanti, musik keroncong bakalan menjadi sesuatu yang lebih diminati oleh anak muda. Bukan sekedar jadi musik yang harus dilestarikan seperti benda purbakala, tapi dikembangkan dan dimainkan selayaknya dan sesuai jamannya” tutup Putut sambil menjabat erat tangan kami berdua.</p>
<p>Fuh, fuh, fuh&#8230;, tiup terus mumpung apinya belum mati!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=196&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-06/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/symphony-kerontjong-moeda1.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/symphony-kerontjong-moeda1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Symphony Kerontjong Moeda1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; The Pinks (05)</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-05/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-05/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 02:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Gudeg Bu Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Juwita Malam]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 28 Mei 2010/Gudeg Bu Ahmda/Yogya Tadi pagi sampai Yogya sekitar jam dua, sampai hotel mandi, transfer foto dan footage, trus blas tidur dengan angan-angan bangun siang. Angan-angan, tinggal angan-angan. Jam 7.30 pintu kamar digedor-gedor kayak ada gempa bumi, astaga naga, Mas Cong ‘menggelar karpet merah’-nya sendiri bawa sarapan. Argh. He has a penchant for [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=187&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/gudeg-bu-ahmda.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/gudeg-bu-ahmda.jpg?w=100&#038;h=150" alt="" title="Gudeg Bu Ahmda" width="100" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-194" /></a><br />
<em>Jumat, 28 Mei 2010/Gudeg Bu Ahmda/Yogya</em></p>
<p>Tadi pagi sampai Yogya sekitar jam dua, sampai hotel mandi, transfer foto dan <em>footage</em>, trus <em>blas </em>tidur dengan angan-angan bangun siang. Angan-angan, tinggal angan-angan. Jam 7.30 pintu kamar digedor-gedor <em>kayak </em>ada gempa bumi, astaga naga, Mas Cong ‘menggelar karpet merah’-nya sendiri bawa sarapan. Argh. <em>He has a penchant for anything dramatic, I guess…</em></p>
<p><em>Blas </em>sudah, tidur lagi sudah tidak mungkin, walaupun mata ini rasanya juling karena lelah. Pas nyawa baru mau terkumpul, BBM masuklah, SMS-lah…, <em>jiaaaah </em>paginya <em>nggak </em>enak <em>banget</em>. Akhirnya jam 12 saya mandi karena Dimas sudah akan datang menjemput untuk mengejar orkes keroncong di UGM. Asli rasanya <em>kayak </em>tentara di barak yang harus selalu siap tempur. Saya cek sekali lagi semua transfer <em>footage </em>Solo. Gambar oke, <em>sound </em>oke. Beres mandi, <em>packing </em>lagi dan meluncur ke arah UGM, selokan Mataram. Ada 2 option, SGPC Wiryo (SeGo PeCel) atau Rumah Gudeg Bu Ahmad. Saya pilih yang nomor dua duluan. </p>
<p>Haaaa…, ternyata ada fenomena “artis keliling” juga buat musis keroncong. Pemain bas betot dan gitar bolong yang saya temui di Bakmi Kadin, ternyata main juga di grup Gudeg Bu Ahmad. Senang juga lihat wajah familiar mereka. Bisa ‘sok akrab’, yang menurut saya kalau dalam konteks ini konotasinya positif. Pimpinan orkes keroncong di Gudeg Bu Ahmad namanya Pak Giyanto. Kisah Pak Giyanto dan grup ini saya dapatkan dari internet:</p>
<p><em>Ada dua hal yang memikat dari Gudeg Bu Ahmad itu. Pertama, sudah jelas karena gudegnya yang nikmat. Kedua, karena selalu ada suguhan keroncong di emperan parkir restoran. Orkes keroncong tanpa nama yang anggotanya sudah sepuh-sepuh itu terdiri dari Pak Giyanto (gitar, vokal), Pak Hadi (ukulele), Pak Toto (selo) dan Bu Asiati (vokal). Pertama kali makan di sana tahun 2007 mata saya sempat terpaku pada seorang lelaki gondrong bermata satu yang memakai kaos lusuh bertulisan The Sex Pistols di punggungnya.  Ia memegang gitar butut dan dikawani 2 orang tua yang memainkan cukulele dan selo. Dia adalah Pak Giyanto sebagai </em>frontman <em>orkes keroncong mini itu</em>. </p>
<p><em>Sambil menikmati gurih manisnya gudeg saya </em>request <em>lagu Juwita Malam. Bagi saya, Juwita Malam adalah sebuah lagu keroncong yang unik sekaligus rumit karena progresi nada dan kord-nya tidak lazim. Miring miring, kalau istilah seorang teman. Tetapi yang miring belum tentu sinting karena harmoni lagu Juwita Malam sungguh waras luar biasa dan untuk memainkan lagu itu memerlukan keahlian musik di atas rata rata. Sebuah orkes keroncong yang tidak bisa memainkan dan menyanyikan Juwita Malam dengan baik bagi saya berarti orkes itu bukan orkes yang handal. Setelah </em>request, <em>bernyanyi Juwita Malamlah Pak Giyanto. Saya lumayan terkejut ketika mendengarnya. Seluruh gerak tubuhnya, ekspresi wajahnya, merupakan penghayatan yang sangat baik. Suranya tidak merdu, cenderung lantang, tetapi roh keroncong benar-benar terasa dari suaranya. Orkes mini emperan parkiran itu memainkan Juwita Malam dengan penghayatan yang hidup dan lepas, tetapi dengan patron musik keroncong yang sungguh amat bisa dipertanggung jawabkan akuntabilitas dan kredibilitasnya (mumpung kasus Century lagi ramai, bolehlah </em>nebeng<em> istilah mereka)</em>. It was an eargasm experience.</p>
<p>P<em>ak Giyanto dan kawan-kawan, mulai main di emperan parkiran Gudeg Bu Ahmad tahun 2006. Saat Yogya terkena gempa bumi, kaki Pak Giyanto remuk kejatuhan runtuhan bangunan sehingga ia harus menggunakan kruk untuk berjalan. Padahal kaki sebagai seorang pemusik bohemian alias musisi keliling itulah modal utama Pak Giyanto untuk mencari nafkah. Mengamen dari pintu ke pintu bersama orkes keroncong mininya. Dari 1980-an bersama istri dan orkes keroncongnya mereka mengamen ke seluruh Pulau Jawa, dari Barat sampai Timur. Musibah yang menimpa Pak Giyanto membuat mobilitas mereka menjadi amat terbatas dan hanya bisa mengamen di seputaran Yogya saja. Suatu hari mereka mengamen di Gudeg Bu Ahmad, kebetulan Pak Marjo (pemilik rumah makan) sedang berada di tempat dan ia menawarkan Pak Giyanto dan orkesnya untuk bermain tetap di parkiran Gudeg Bu Ahmad. Sekarang tip dari tamulah yang menjadi andalan nafkahnya, “Daripada ke sana ke mari, lebih baik main di sini saja. Rejeki sudah ada yang ngatur.” Sejak itulah mereka rutin main setiap hari di emperan parkiran Gudeg Bu Ahmad mulai jam 08.00-14.30-an.</em></p>
<p>Yah, konon kata demikianlah kisah mereka yang saya dapatkan di internet. Menurut Pak Sutopo, pemain bas betot yang juga main di OK Melati Jaya (Bakmi Kadin), hanya dengan bermain di dua orkes keroncong (pagi dan malam), sambil kadang dapat panggilan sebagai pemain comotan untuk orkes yang membutuhkan pemain bas betot, yang konon katanya cukup langka di Yogya, khususnya keroncong, ia dapat bertahan hidup.</p>
<p>Setelah berpamitan kami meluncur ke SGPC Wiryo, tak jauh dari Gudeg Bu Ahmad, masih disekitar selokan Mataram, UGM. Sayang, kami terlambat dan mereka sudah berhenti main. Dimas dengan sigap mengejar mereka untuk minta info kontak. Sekilas, mereka tampaknya musisi keroncong muda yang dikuatkan juga oleh info tukang parkir SGPC. </p>
<p>Berakhirlah kegiatan saya hari ini. Sisa hari kita habiskan di Coffee Break, jalan Kaliurang, sekalian cek hasil <em>footage </em>Solo. Haduuuh, dasar <em>tuwir</em>! Rata-rata<em> moving footage</em> ikut antusias ‘goyang inul’ alias <em>nggak </em>stabil. <em>Still footage</em> masih lebih <em>mending</em>, meskipun dengan yakinnya (walaupun <em>nggak </em>sadar) saya pakai format RAW. Benar-benar pe er!! Semua kudu di-<em>convert </em>satu–satu biar bisa dimengerti pengguna Photoshop<em> lower than</em> CS4. Prajurit salah strategi. <em>Halah</em>. Lanjut nulisnya besok lagi-lah. Mau <em>kerjain </em>pe er dulu!! </p>
<p>Catatan Administrator Blog:<br />
Sebelumnya saya minta maaf karena mengedit naskah penulis dari <em>web </em>yang dikutip.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=187&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/31/apinya-belum-mati-the-pinks-05/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/gudeg-bu-ahmda.jpg?w=100" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/gudeg-bu-ahmda.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">Gudeg Bu Ahmda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; The Pinks (04)</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/30/apinya-belum-mati-the-pinks-04/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/30/apinya-belum-mati-the-pinks-04/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 07:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Ngarsopuro]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 27 Mei 2010/Tujuh Harian Gesang/Ngarsopuro-Solo Crong crong crong&#8230;. mulailah bunyi musik keroncong melantun, melenggok memenuhi langit Ngarsopuro. Dari mulai orkes anak belasan tahun, mahasiswa sekolah tinggi karawitan sampai pemuda-pemudi dan tentunya sepuh-sepuh, semuanya silih berganti membawakan nada dan irama, baik dari yang masih asli hingga kontemporer lengkap dengan rap pria, biduanita sampai waria pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=179&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pitung-dinanan-gesang1.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pitung-dinanan-gesang1.jpg?w=150&#038;h=80" alt="" title="Pitung Dinanan Gesang" width="150" height="80" class="alignleft size-thumbnail wp-image-183" /></a><br />
<em>Kamis, 27 Mei 2010/Tujuh Harian Gesang/Ngarsopuro-Solo</em></p>
<p>Crong crong crong&#8230;. mulailah bunyi musik keroncong melantun, melenggok memenuhi langit Ngarsopuro. Dari mulai orkes anak belasan tahun, mahasiswa sekolah tinggi karawitan sampai pemuda-pemudi dan tentunya <em>sepuh-sepuh</em>, semuanya silih berganti membawakan nada dan irama, baik dari yang masih asli hingga kontemporer lengkap dengan <em>rap </em>pria, biduanita sampai waria pun monggo sumbang suara dan musik di panggung 12 jam ini. </p>
<p>Setelah dua jam berlalu, pinggang dan kaki mulai pegal <em>wira-wiri</em> di sekitar panggung. Setelah mengisi tenaga dengan sepiring nasi liwet, kami memutuskan untuk mencari sudut di belakang panggung untuk berisitirahat. Semakin menarik. Apa yang dilihat di depan dan di belakang panggung, walaupun hanya terpisah selembar <em>backdrop </em>foto Gesang, rasanya amat berbeda.</p>
<p>Penampilan apik dan kompak yang tersaji diatas panggung dari hampir semua peserta, kontras dengan situasi antar pemain di <em>backstage</em>. Kelihatan sekali ada kelompok-kelompok ‘nongkrong’ yang beda-beda, walaupun mereka berasal dari satu orkes yang sama. Malah sempat ada seorang personil orkes yang pada waktu gilirannya main, malah lari-lari kembali ke belakang panggung, meminjam tiga alat musik orkes lain. Alasannya, lupa bawa. ‘<em>Jiaaahh</em>, lupa bawa kok sampai tiga alat?!’ saya sempat berpikir dalam hati. <em>Tokh</em>, mereka tetap tampil maksimal di panggung.</p>
<p>Di belakang panggung sama saja seperti kehidupan nyata, ada juga ‘beda kasta’ antar pemain. Antara pemain jalanan alias <em>ngamen </em>yang mungkin belajarnya secara otodidak, dengan pemain yang mendapat ilmu secara akademis. Ini kelihatan jelas pada saat tampil. Pemain sepuh dan jalanan lebih interaktif dan santai. <em>They are enjoying themselves when they play the music</em>. Penonton jadi dengan mudah terbawa sehingga terasa ada komunikasi batin saat mereka main. Secara kemampuan teknis, generasi akademika tentunya lebih baik, tetapi buat saya pribadi mereka masih bermain dengan mengandalkan teknik, belum dengan hati. Tapi perhelatan ini tetap punya makna, karena tua muda dengan berbagai latar belakang sosial mereka berkumpul untuk Gesang secara khusus dan keroncong secara umum. Kalau saya Gesang, saya akan tersenyum lebar menyaksikan Ngarsopuro malam ini.</p>
<p>Melihat pemain-pemain muda berusia 14-25 tahun, variasi keroncong yang dimainkan <em>asik</em>! Apalagi setelah selama ini dari riset kecil-kecilan di internet, banyak musisi muda yang mengangkat keroncong hanya untuk dicuil sedikit sebagai variasi saja. Ada juga cerita sebuah grup yang baru saja terbentuk April 2010, kebetulan personilnya <em>cakeeeeeeeppppp </em>benar-benar <em>cakep</em>! Dengan modal nekat, bocah-bocah <em>cakep </em>ini mempersembahkan sebuah karya musik keroncong versi mereka kepada maestro yang baru saja berpulang, Mbah Gesang. Sayangnya, pada saat mereka mengunjungi Gesang di RS, beliau sudah dalam keadaan koma, sehingga tidak terjadi sempat ngobrol. Jadi malam ini mereka memainkan sebuah lagu kepada Gesang sembari berdoa bahwa sang maestro mampu mendengarkan karya yang diperuntukkan kepadanya. Jujur saja, aransemen mereka agak aneh, karena meskipun tetap ada instrumen standar keroncong seperti cello dan ukulele, tetapi karena ditambah dengan drum dan gitar elektrik, bunyinya jadi janggal. Untung usaha mereka tetap dihargai dengan tepukan tangan sebelum dan sesudah manggung.</p>
<p>Tepat tengah malam, lampu panggung dimatikan. MC meminta hening dan berdoa untuk mendiang Gesang. Sembari diiringi lagu ciptaannya, yang terima kasih Tuhan bukan Bengawan Solo (lagi), tapi Pandan Wangi. Para penonton yang sebelumnya sudah dibagikan lilin kemudian menyalakannya secara serentak, ternyata Ngarsopuro sudah padat. Suasana tertib dan tenang. Tengah malam lewat sudah. Umur mulai bicara. Saya pamit pada Mas Hery dan sampai ketemu lagi minggu depan. Solo, <em>I’m coming</em>.</p>
<p>Dalam perjalanan ke Yogya saya sempat berpikir, apa tidak ada <em>repertoire </em>lagu keroncong baru? Bukan aransemen baru, tapi <em>repertoire </em>keroncong murni…? Kenapa tidak ada yang buat, ya? Malam ini selain bocah-<em>cakep</em>-main-musik-janggal, sama sekali tidak ada lagi <em>repertoire </em>baru murni keroncong. Hmmm…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=179&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/30/apinya-belum-mati-the-pinks-04/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pitung-dinanan-gesang1.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pitung-dinanan-gesang1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pitung Dinanan Gesang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; 03 (The Pinks)</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-03-the-pinks/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-03-the-pinks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Ngarsopuro]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 27 Mei 2010/Yogya–Solo-pp Bangun lumayan segar deh, walaupun jadi telat buat sarapan di hotel. Hayah, yang penting coffemix selalu standby dalam paket alat perang hari gini. Setelah cek ulang peralatan yg di-pack khusus untuk trip ke Solo nanti sore, Dimas datang teng jam 11. Pergi ke Galeri Cemeti untuk beli CD Orkes Sinten Remen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=172&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/lilin-buat-gesang01.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/lilin-buat-gesang01.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" title="Lilin Buat Gesang01" width="150" height="100" class="alignleft size-thumbnail wp-image-173" /></a><br />
<em>Kamis, 27 Mei 2010/Yogya–Solo-pp</em></p>
<p>Bangun lumayan segar <em>deh</em>, walaupun jadi telat buat sarapan di hotel. <em>Hayah</em>, yang penting coffemix selalu <em>standby </em>dalam paket alat perang hari <em>gini</em>. Setelah cek ulang peralatan yg di-<em>pack </em>khusus untuk <em>trip </em>ke Solo nanti sore, Dimas datang teng jam 11. Pergi ke Galeri Cemeti untuk beli CD Orkes Sinten Remen (Djaduk Ferianto) yang tinggal satu-satunya! </p>
<p>Berhubung kocek pas-pasan, hari itu juga mau <em>nggak </em>mau harus keluar dari hotel Bifa yang nyaman dan menyenangkan tapi kurang sesuai kondisi kantong. Dalam pencarian terjadilah huru-hara drama romantika kehabisan hotel. Memang kalau <em>traveling </em>jangan lupa cek kalender Indonesia, secara kebiasaan manusia modern ngeliat calendar laptop/google/blackberry, jadi sering <em>nggak </em>sadar kalau ada tanggalan merah. Akhirnya 1,5 jam <em>mudeng-mudeng</em> (gaya <em>bener </em> sudah pakai <em>jargon </em>Yogya!), akhirnya <em>ketemu </em>juga losmen <em>ala </em>kos-kosan di dekat jl.Solo-Gejayan. Lumayan <em>banget </em>tempatnya dan jangan khawatir sampai detik ini saya masih <em>nggak </em>bisa ingat namanya apa. Kamar standar, AC, <em>twin bed</em>, dengan air panas yang hidup sesuka hatinya, pantaslah dihargai 240ribu/malam termasuk makan pagi sederhana. Mas-nya yg saya rasa agak ‘<em>cong</em>’ nawarin kamar ‘<em>sweet</em>’ (yang mungkin maksudnya mungkin ‘<em>suite</em>’). Percakapan tipikal turis <em>kere</em>:<br />
“Bedanya opo, Mas?”</p>
<p>“Ya besaran sitik kamarnya, Mbak…”</p>
<p>“Oalahhhh ya beda 60 ribu aja sih, wis ben ambil yang standar aja doong!”</p>
<p><em>Abis </em><em>gitu</em>, wajar saya lapar. Hmmm…, makan apa, ya? CRING! Tiba-tiba saya ingat Bang Ucok, tempat makan Batak yang jelas menunya daging haram! Dengar agak ragu Dimas bilang mungkin lupa-lupa ingat, <em>yo wis</em> hajar aja dulu ke Condong Catur, nanti tanya kalau <em>nggak </em>ketemu. Perjalanan ke sana untuk Dimas si Bocah Jogya lumayan jauh dan macet. Yaaah Dim, ini <em>sih </em>kalau di Jakarta cuma antrian lampur merah. </p>
<p>Jam tiga kurang kami berangkat menuju Solo. Mendung tebal, lantas gerimis dan berakhir dengan hujan lebat menemani Jogya-Solo. Selama perjalanan mata didongkrak dengan ngobrol supaya tidak tertutup. Saya ajak Dimas ngobrol soal Tugas Akhirnya (TA). Anak ini memang cerdas dan kemampuan analisanya baik. Konsep awal TA-nya sangat menarik, tapi terbentur segala birokrasi dan ego sekolah yang membuatnya harus melakukan perubahan daripada ‘ditunda’ kelulusannya. Halah, hari gini sekolah masih <em>aja power trip</em>.</p>
<p>Masuk kota Solo, kita janji bertemu Mas Heri di Planet Espresso Manahan. Sempat <em>mudeng-mudeng</em> lagi cari toko elektronik, karena perlu <em>jack connector</em> dari <em>mini jack headphone</em> ke Fostex. <em>Nggak nemu, euy</em>. Pukul 18:15 kita berangkat ke Ngarsopuro.</p>
<p>Peringatan tujuh harian Gesang ini dilakukan di halaman parkir Pasar Pusat Barang Antik di Solo, Ngarsopuro. Pasarnya sendiri kalau malam sudah tutup, tapi lampu <em>spotlight </em>dan penerangan panggung cukup membuat suasana menjadi menyenangkan, sekalipun masih terus hujan. Ketika kita datang, belum banyak penonton. Orang celingak-celinguk lewat dan berhenti untuk melihat ada acara apa. <em>Digital print</em> foto Gesang sedang bermain suling menjadi <em>background </em>panggung seluas kira-kira 10 x 5 meter. Sebentar saya sempat melamun karena terlalu konsentrasi melindungi peralatan perang dari air hujan ‘Gesang, riwayatmu kini. Setelah meninggal, baru diingat orang’. </p>
<p>Lamunan saya tidak lama, karena ada sapaan ramah seorang wanita tua yang duduk di bangku besi melingkar di tiang lampu antik jalanan.<br />
“Lengah mriki…”, tawarnya menyuruh saya duduk di bangku besi itu. </p>
<p>“Makasih, Bu,” saya menyambut tawarannya. </p>
<p>Dia kemudian melanjutkan celotehnya dalam bahasa Jawa halus. Setelah ‘ah oh ah oh’ dia bertanya dalam bahasa Indonesia, “Adik dari mana?” </p>
<p>Leganya saya mendengar pertanyaan itu. Setelah saya jawab, dia tersenyum dan melanjutkan, “Saya sudah tujuh puluh tahun, baru sekali ini ada acara begini di sini. Sebelumnya ndak pernah ada…, karena walikotanya yang sekarang mau buat rakyatnya seneng.” </p>
<p>Percakapan tarzan kami terganggu acara yang sudah mau mulai. Kebiasaan kerja tahunan di industri durjana produksi iklan, saya langsung berkoordinasi dengan Dimas dan Mas Heri untuk posisi memotret dan merekam di tengah air hujan yang terus mencurah dari langit. Jangan-jangan langit Solo ikut berduka…?</p>
<p>Catatan Foto:<br />
Lilin yang dinyalakan penonton untuk Gesang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=172&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-03-the-pinks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/lilin-buat-gesang01.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/lilin-buat-gesang01.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Lilin Buat Gesang01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; 02 (The Pinks)</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-02-the-pinks/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-02-the-pinks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 04:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Bakmi Kadin]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 26 Mei 2010/06:00 AM/Jakarta-Yogya/Argo Dwipangga Jam enam pagi ini, Jakarta dan Stasiun Gambir masih kelihatan setengah tidur. Sambil merokok dan ngopi di salah satu kafetaria, tiba-tiba saya sadar bahwa I am doing the old stuff I used to do…, travelling!! Rasanya excited, tapi ada juga yang berkata, apa iya masih sekuat, segila, senekad dulu? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=166&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bakmi-kadin.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bakmi-kadin.jpg?w=150&#038;h=86" alt="" title="Bakmi Kadin" width="150" height="86" class="alignleft size-thumbnail wp-image-167" /></a><br />
<em>Rabu, 26 Mei 2010/06:00 AM/Jakarta-Yogya/Argo Dwipangga</em></p>
<p>Jam enam pagi ini, Jakarta dan Stasiun Gambir masih kelihatan setengah tidur. Sambil merokok dan <em>ngopi </em>di salah satu kafetaria, tiba-tiba saya sadar bahwa<em> I am doing the old stuff I used to do…, travelling</em>!! Rasanya <em>excited</em>, tapi ada juga yang berkata, apa iya masih sekuat, segila, senekad dulu? Diam-diam saya tertawa sendiri dalam hati melihat barang bawaan. <em>Backpack </em>tentu masih jadi kebutuhan, tas <em>laptop </em>lengkap dengan isi, dan sebuah koper kecil dengan <em>geledegan</em>-nya (roda). Peralatan perang kali ini masih ditambah dengan alat <em>sound </em>lapangan mini dengan mic-nya dua set, ambisius gila. <em>Perintilan </em>kecil-kecil berupa kabel, <em>charger</em>, ini itu, USB, h<em>ard disk external</em> (jangan kuatir sampai tiga, bos!), Ipod dan camera DSLR dengan lensa ekstra, siap membebani perjalanan ke tiga kota di Jawa Tengah selama kurang lebih 10 hari. </p>
<p>Rasanya jauh beda dibanding perkakas jalan-jalan 10-15 tahun lalu, yang perlengkapan wajibnya hanya <em>walkman cassette</em>, kamera saku (yang masih pakai film, jadi berikut serepnya) dan ekstra kartu telepon kalau-kalau kehabisan uang dan harus minta dikirimi lagi. Ya memang perjalanan kali ini ada misi khusus, makanya sampai bawa-bawa alat <em>sound </em>(ampun <em>deh </em>manusia <em>budek </em><em>kayak </em><em>gue </em><em>kok </em>ya bawa alat <em>sound</em>)</p>
<p>Walaupun ini peralatan sudah diedit se-<em>ringkes </em>mungkin, tetapi yang namanya perjalanan jaman sekarang, tetep lebih <em>ribet </em>gara-gara segala <em>gadget </em>canggih yang <em>kayak</em>-nya <em>nggak </em>mungkin <em>nggak </em>dibawa. Biar repot, tetapi tetap dilakoni demi kenyamanan dan rasa aman bahwa kemanapun kita pergi sekarang, hubungan dengan rumah, teman dan dunia tidak terputus. Ampuunn bedanya dengan perasaan saat jalan-jalan jaman dulu yang kalau bisa hilang dari peredaran dan hilang dari sekolah sampai berminggu-minggu kalo bisa berbulan-bulan. <em>Anyway</em>, kabar standar <em>a la</em> PJKA, kereta akan terlambat dan baru berangkat satu jam terlambat dari waktu yang tercetak di tiket. </p>
<p>Begitu masuk gerbong, saya <em>ngantuk</em>. Jakarta…, <em>babay tekker</em>! Tiga jam kemudian bangun dan berasa rada linglung. Waktunya merokok, biar agak <em>pinteran </em><em>dikit</em>. Heh, restorasi penuh abis, jadi saya merokok di sambungan gerbong, standar. Masih juga harus menerima pesan dari Blackberry soal kerjaan…. <em>Siyal</em>. Salah satu fitur yang paling negatif dari gadget ini: <em>nggak </em>bisa kabur dari informasi! Argh.</p>
<p>Jam 16.30 tiba di Tugu, Yogya. Penjemput saya sudah <em>stand by</em>: Dimas, generasi muda masa kini yang baru selesai tugas akhir dan sedang bersiap-siap terjun ke ibukota. <em>Ngopi </em>sebentar di Raminten di tepi Kali Code sambil membahas rencana perjalanan. Ada info mendadak bahwa besok di Solo ada pertunjukkan keroncong dalam rangka tujuh harian Gesang. Aduuuh…, artinya besok kita harus pulang hari ke Solo karena malamnya saya mau lihat prosesi Waisak. </p>
<p>Baru saja masuk ke hotel, tiba-tiba dapat info lagi ada kelompok pengamen keroncong di restoran bakmi kondang di kota ini. Meluncurlah kami ke sana. Bakmi Kadin di Bintaran Kulon. Rumah makan ini terhitung luas, tapi sederhana. Tepat di trotoar pintu masuk ada selasar ditutup atap, di sana duduklah orkes keroncong (OK) Mitra Jaya, beranggotakan enam personil tua muda. Kebetulan mereka sedang istirahat, jadi setelah memesan bakmi rebus, Dimas langsung beraksi menegur mbak Watik, sang <em>lead vocal</em>. Dapet <em>deh </em>kartu nama. Ternyata beberapa personil <em>sepuh </em>di orkes itu sudah bermain sejak Bakmi Kadin berdiri sekitar 20 tahun yang lalu. Yang muda-muda (ada tiga orang termasuk mbak Watik) baru bergabung sekitar 5 tahun lalu, menggantikan yang sudah terlalu tua dan meninggal dunia. </p>
<p>Siapa bilang grup keroncong <em>nggak </em>bisa main seperti grup Top 40? Hahaha, model <em>ngamen </em>sekarang ya, seperti ini dimana-mana. Lagu apapun bisa dibawakan dengan <em>style </em>keroncong-keronconganan. Jadilah cong-dut, cong-pop, cong-campursari, yang jelas mereka sangat berhasil menghibur para tamu. Mbak Watik menjelaskan bahwa memang seperti inilah tuntutan masyarakat. OK Mitra Jaya bermain di Bakmi Kadin setiap dua hari sekali dan tampaknya sudah merupakan kontrak mati. Sementara mereka main, saya tetep mendokumentasikan mereka, <em>stills </em>maupun <em>clip </em>sebagai <em>stock shot</em> (siapa tahu butuh). Pukul 21:30, kami beranjak pulang, sambil <em>manggut-manggut</em> (dadah-dadah cara Jawa) kepada OK Mitra Jaya.</p>
<p>Besok perjalanan berlanjut. Kata Dimas sekalian makan siang di UGM ada tempat namanya &#8216;sego&#8217; apa gitu karena ada yang <em>ngamen </em>keroncongan lagi. Ya sudah mari, mainkaaan…! </p>
<p>P.S.<br />
Tertarik <em>nanggap </em>OK Mitra Jaya? Harganya Rp. 900.000,- sudah termasuk alat dan transportasi untuk main rata-rata dari jam 7 malam sampai menjelang tengah malam. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=166&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-02-the-pinks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bakmi-kadin.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bakmi-kadin.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Bakmi Kadin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apinya Belum Mati &#8211; 01</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-01/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-01/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 02:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun sepertinya nggak ada hubungan, tetapi gambar di atas adalah foto tukang perahu di Bengawan Solo (doc. SHN), sungai yang &#8216;begitu aja&#8216; bisa jadi inspirasi sebuah lagu yang ketenarannya kadang melebihi Indonesia. Jadi inspirasi itu rupanya bisa datang dari mana saja. Dalam rangka terus jalan mencari tahu keroncong itu sekarang seperti apa, walaupun dengan api [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=160&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bengawan-solo.jpg"><img src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bengawan-solo.jpg?w=105&#038;h=150" alt="" title="Bengawan Solo" width="105" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-161" /></a><br />
Walaupun sepertinya <em>nggak </em>ada hubungan, tetapi gambar di atas adalah foto tukang perahu di Bengawan Solo (doc. SHN), sungai yang &#8216;begitu <em>aja</em>&#8216; bisa jadi inspirasi sebuah lagu yang ketenarannya kadang melebihi Indonesia. Jadi inspirasi itu rupanya bisa datang dari mana saja.</p>
<p>Dalam rangka terus jalan mencari tahu keroncong itu sekarang seperti apa, walaupun dengan api kecil, seorang teman berangkat membantu mengabadikan. Kita panggil saja manusia ini, <strong>The Pinks</strong>. Perempuan kecil, yang kemanapun dia melangkah selalu diikuti asap rokok seperti lokomotif ini, memutuskan kalau &#8216;tidak sekarang lantas kapan lagi&#8217;? Jadi tanpa tedeng aling-aling, dia melangkah sendiri, meninggalkan pekerjaannya tetapnya dan langsung terjun dengan segala peralatan perang mengunjungi tiga kota di Jawa untuk mengambil gambar bergerak, gambar diam dan sekaligus bunyi yang bisa jadi <em>footage</em>.</p>
<p>The Pinks memang terkenal di antara kita <em>forever on the natural high</em> alias <em>lebai</em> kalo kata orang jaman sekarang. Jadi walaupun terkenal agak <em>budek </em>binti <em>torek</em>, sama sekali tidak menghalangi dia untuk ambil <em>crash course</em> bagaimana cara menggunakan alat perekam dua trek pada seorang begawan pengolah bunyi di Indonesia. Tentu keputusannya untuk jalan sendiri jadi menarik simpati banyak orang, dasar rejekinya ada saja yang mau meminjamkan dua <em>boundary microphones</em> untuk melengkapi perlengkapan perang yang sudah menenggelamkan badannya yang kecil.</p>
<p>Saya yang tidak bisa ikut karena masih harus berangkat ke Tuban, memaksa dia &#8216;melaporkan&#8217; jalan-jalannya setiap hari. Hasilnya, The Pinks <em>banget</em>. Nekat, rejeki baik, agak gila, tetapi hiburan murni. Selamat jalan-jalan!</p>
<p>N.B.<br />
Dokumentasi foto diambil oleh SHN (namanya boleh disebut <em>nggak</em>?), ketika kami melakukan riset keroncong pertama selama dua minggu di Jawa Tengah. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=160&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/29/apinya-belum-mati-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bengawan-solo.jpg?w=105" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/bengawan-solo.jpg?w=105" medium="image">
			<media:title type="html">Bengawan Solo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Elegance, Beauty, Influence &#8211; Menulis Buku Pesanan</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/26/elegance-beauty-inffluence-menulis-buku-pesanan/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/26/elegance-beauty-inffluence-menulis-buku-pesanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 23:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ellegance, Beauty, Influence - Hotel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sudah Terbit]]></category>
		<category><![CDATA[Anastas Mikoyan]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Hotel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Judulnya boleh hebat, tapi isinya biasa saja karena yang pesan buku juga ingin memasukkan &#8216;prestasinya&#8217;. Agak menyebalkan, tetapi selalu ada hikmahnya. Nevertheless, it is a beautiful book. Salah satu hal yang saya pelajari dari pembuatan buku ini adalah konsep presiden pertama RI, Sukarno, sebagai seorang arsitek/ahli sipil (saya sampai sekarang tidak pernah bisa tahu keahliannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=152&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/hi_jacketcover_a13.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-153" title="HI_JacketCover_a13" src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/hi_jacketcover_a13.jpg?w=150&#038;h=71" alt="" width="150" height="71" /></a><br />
Judulnya boleh hebat, tapi isinya biasa saja karena yang pesan buku juga ingin memasukkan &#8216;prestasinya&#8217;. Agak menyebalkan, tetapi selalu ada hikmahnya. <em>Nevertheless, it is a beautiful book</em>.</p>
<p>Salah satu hal yang saya pelajari dari pembuatan buku ini adalah konsep presiden pertama RI, Sukarno, sebagai seorang arsitek/ahli sipil (saya sampai sekarang tidak pernah bisa tahu keahliannya yang mana) dalam membangun bangunan di negara tropis: agak ekstrim, tetapi masuk di akal.</p>
<p>Bayangkan, pada awalnya Hotel Indonesia (satu-satunya hotel yang berani menyandang nama bangsa di dunia) dibangun tanpa AC sama sekali. Pada waktu itu Bunderan HI tentu belum seperti sekarang, dan dari kamar yang menghadap selatan konon Bogor bisa kelihatan. Sampai kemudian Anastas Mikoyan (perdana menteri Rusia) datang menginap. Ketika ditanya pendapatnya mengenai hotel ini ia menjawab dengan positif, hanya saja menyayangkan kamar-kamarnya yang tanpa AC. Seperginya Mikoyan, Sukarno langsung memerintahkan penambahan AC, sehingga jadilah 200 kamar dengan sistem ventilasi silang dan 206 kamar dengan AC.</p>
<p>Sukarno sebisanya memang menekankan penggunaan tata udara alami, seperti yang terjadi di meja penerima tamu dan lobi. Pengaturan sirkulasi udara di ruangan-ruangan ini dimungkinkan karena adanya selasar lebar di bagian luar hotel yang dirancang mampu menahan sengatan matahari tropis, ditambah lagi adanya kolam air mancur di bagian luar (area parkir) yang berfungsi mendinginkan udara luar yang menerobos masuk. Pintar, eh?</p>
<p>Hal lain yang betul-betul saya nikmati dalam pembuatan buku ini adalah bertemu orang-orang yang langsung terlibat dalam sejarah &#8216;kontemporer&#8217; Indonesia, foto-foto hitam putih yang cantik dan berbagai macam gosip mengenai Presiden RI yang pertama dengan segala sepak terjangnya.</p>
<p>Ketika buku ini selesai, saya hanya bisa berpikir, kalau saja presiden Indonesia yang pertama bukanlah seorang Sukarno apa jadinya bangsa ini? Sukarno kelakuannya mungkin <em>rock &#8216;n roll</em>, tapi beliau punya rasa nasionalisme dan cinta pada bangsa ini yang &#8216;ampun keterlaluan&#8217; (konotasinya positif). Ini yang sekarang jadi satu-satunya modal bangsa untuk bisa bangga pada tanah airnya, sayang makin hari modal ini makin tipis. <em>Nggak tau</em> kenapa&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=152&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/26/elegance-beauty-inffluence-menulis-buku-pesanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/hi_jacketcover_a13.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/hi_jacketcover_a13.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">HI_JacketCover_a13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tenun Gedog Tuban</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/24/tenun-gedog-tuban/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/24/tenun-gedog-tuban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 00:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[tekstil]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tenun Gedog Tuban]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[tuban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari ada kabar burung yang bunyinya &#8216;kira-kira bersediakah saya membantu menulis mengenai tenun gedog Tuban&#8217;? Astaga, si penyebar kabar burung memang tahu kelemahan saya: serakah informasi. Jadi walaupun bisa dibilang pengetahuan saya nol besar untuk tekstil tradisional, saya memutuskan untuk terjun dengan mata tertutup. Buku ini tentunya disponsori perusahaan raksasa dengan program CSR mereka. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=117&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pintal-1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-118" title="pintal 1" src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pintal-1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a><br />
Suatu hari ada kabar burung yang bunyinya &#8216;kira-kira bersediakah saya membantu menulis mengenai tenun gedog Tuban&#8217;? Astaga, si penyebar kabar burung memang tahu kelemahan saya: serakah informasi. Jadi walaupun bisa dibilang pengetahuan saya nol besar untuk tekstil tradisional, saya memutuskan untuk terjun dengan mata tertutup.</p>
<p>Buku ini tentunya disponsori perusahaan raksasa dengan program CSR mereka. Walaupun saya merasa pasti mereka telah melakukan &#8216;sesuatu yang penuh dosa&#8217;, tetapi kalau didukung tim yang baik dan pada akhirnya memberikan keuntungan/berkah pada masyarakat, saya mau tutup mata (lagi).</p>
<p>Sebagai manusia <em>bego</em>, tentunya buku ini dimotori seorang ahli dalam masalah tekstil dan saya yang terjun ke lapangan melakukan riset. <em>We share authorship</em><em>, </em>begitu kata si ahli tekstil yang berambut pirang, dengan nama asing, walaupun sudah WNI.</p>
<p>Jeng, jeeenng! <em>Little did I know</em>, bahwa ternyata daerah Jawa Timur bagian barat memiliki ritual yang lebih tua daripada agama-agama Asia Barat dan <em>it is very much alive</em>. Singkatnya, saya mendapat pengalaman berharga dan dari waktu yang seharusnya satu bulan di Tuban, saya sudah <em>ngibrit </em>pulang dalam dua minggu.</p>
<p>Dalam waktu dekat, saya harus kembali lagi ke sana melanjutkan riset yang terpotong. Semoga secara spiritual saya lebih mantap dan buku ini bisa selesai tepat waktu untuk masyarakat Tuban bisa lebih menghargai budayanya dan melihatnya dari kacamata yang berbeda: bahwa mereka masih memiliki suatu tradisi tekstil yang </span><strong><span style="font-style:normal;">bisa jadi</span></strong><span style="font-style:normal;"> merupakan prototipe tekstil tertua di Jawa. Memang argumentasi masih bisa dilanjutkan, tetapi kita serahkan saja pada ahli sejarah. </span>(<em>bersambung</em>)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=117&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/24/tenun-gedog-tuban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pintal-1.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/pintal-1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pintal 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matt Berninger: like wool and chocolate</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/matt-berninger-like-wool-and-chocolate/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/matt-berninger-like-wool-and-chocolate/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 14:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-catatan Dungu]]></category>
		<category><![CDATA[matt berninger]]></category>
		<category><![CDATA[slowshow]]></category>
		<category><![CDATA[the national]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Matt Berninger yang bernyanyi dalam grup The National suara baritonnya jika harus disamakan dengan dua kata benda adalah: wol dan cokelat. Konotasi kedua kata ini asli &#8216;nyaman&#8217;. Tidak peduli se-stress apapun lagunya, tetap nyaman dan empuk. Masa bodoh bahwa kadang liriknya tidak jelas bicara apa, tetap nyaman dan empuk. Standing at the punch table swallowing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=109&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/milkchocolate1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-114" title="MilkChocolate" src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/milkchocolate1.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Matt Berninger yang bernyanyi dalam grup The National suara baritonnya jika harus disamakan dengan dua kata benda adalah: wol dan cokelat. Konotasi kedua kata ini asli &#8216;nyaman&#8217;.</p>
<p>Tidak peduli se-stress apapun lagunya, tetap nyaman dan empuk. Masa bodoh bahwa kadang liriknya tidak jelas bicara apa, tetap nyaman dan empuk.</p>
<p><em>Standing at the punch table swallowing punch<br />
can’t pay attention to the sound of anyone<br />
a little more stupid, a little more scared<br />
every minute more unprepared</em></p>
<p><em>I made a mistake in my life today<br />
everything I love gets lost in drawers<br />
I want to start over, I want to be winning<br />
way out of sync from the beginning</em></p>
<p><em>I wanna hurry home to you<br />
put on a slow, dumb show for you<br />
and crack you up<br />
so you can put a blue ribbon on my brain<br />
god I’m very, very frightening<br />
I’ll overdo it</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Looking for somewhere to stand and stay<br />
I leaned on the wall and the wall leaned away<br />
Can I get a minute of not being nervous<br />
and not thinking of my dick<br />
My leg is sparkles, my leg is pins<br />
I better get my shit together, better gather my shit in<br />
You could drive a car through my head in five minutes<br />
from one side of it to the other</em></p>
<p><em>You know I dreamed about you<br />
for twenty-nine years before I saw you<br />
You know I dreamed about you<br />
I missed you for<br />
for twenty-nine years</em></p>
<p><em><span style="font-style:normal;">BICARA APA DIA? Yang penting nyaman dan empuk. Wol dan cokelat.</span></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=109&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/matt-berninger-like-wool-and-chocolate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/milkchocolate1.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/milkchocolate1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">MilkChocolate</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musik Jiwa, Sikat Jawi</title>
		<link>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/musik-jiwa-sikat-jawi/</link>
		<comments>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/musik-jiwa-sikat-jawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 06:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarami ansal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dalam Pembuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[portugis]]></category>
		<category><![CDATA[seaborne empire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaras.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya ini adalah proyek kreatif untuk melongok keroncong. Sampai saat ini, masih yang paling ambisius. Skalanya raksasa, isinya asyik, formatnya lengkap (buku hybrid, CD, original recording dan dokumenter), dananya besar, melibatkan banyak orang, kendalanya segunung, rambut tambah putih, musik jiwa ini memang bikin sikat jawi (sakit jiwa). Sudah hampir setahun, belum kemana-mana. Simply unbelievable. Bukunya dimulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=90&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/proposalkeroncong.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-91" title="ProposalKeroncong" src="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/proposalkeroncong.jpg?w=150&#038;h=98" alt="" width="150" height="98" /></a><br />
Ceritanya ini adalah proyek kreatif untuk melongok keroncong. Sampai saat ini, masih yang paling ambisius. Skalanya raksasa, isinya asyik, formatnya lengkap (buku <em>hybrid</em>, CD, <em>original recording</em> dan dokumenter), dananya besar, melibatkan banyak orang, kendalanya segunung, rambut tambah putih, musik jiwa ini memang bikin sikat jawi (sakit jiwa). Sudah hampir setahun, belum kemana-mana. <em>Simply unbelievable.</em></p>
<p>Bukunya dimulai dari &#8216;gosip&#8217; di sekitar Portugis dengan kejayaan <em>seaborne empire</em> di abad 16, pelayaran, ekspedisi, tokoh besar dan diceritakan oleh tokoh sampingan yang mati duluan. Lalu dilanjutkan dengan cerita seorang budak yang harus bertahan di dearh &#8216;jin buang anak lalu mati karena malaria&#8217; di daerah (sekarang) Cilincing. Diteruskan lagi oleh seorang artis keliling di Surabaya.</p>
<p><em>Research</em><em>-</em>nya saja menghabiskan data beberapa giga bytes, satu <em>laptop </em>hilang di Bandara Sutta, entah berapa slof rokok, ketinggalan pergaulan (karena di luar kota terus), hati <em>groak </em>tinggal seperempat lagi karena dimakan sedikit demi sedikit menghadapi orang-orang yang meremehkan dan dianggap tidak komersil, rasa bersalah karena seakan-akan memberikan harapan kosong pada banyak orang dan yang paling penting ternyata orang Indonesia matanya banyak yang picek sebelah a.k.a memandang sebelah mata.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Masih untung, yang namanya harapan ternyata bisa diisi ulang seperti pulsa. Masih ada juga manusia yang mau membantu baik fisik, finansial dan pikiran. Jadi, walaupun merayap Insya Allah harus jadi. <em>Edhan</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaras.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaras.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaras.wordpress.com&amp;blog=13720482&amp;post=90&amp;subd=imaras&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaras.wordpress.com/2010/05/23/musik-jiwa-sikat-jawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/proposalkeroncong.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://imaras.files.wordpress.com/2010/05/proposalkeroncong.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ProposalKeroncong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8c9108df8d3fb2575e5e1c8cd4d32ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaras</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
